Cinta Pertama oh Cinta Pertama

Posted on Updated on

IMG_20151221_131101_486Kalian masih ingat tidak kenangan masa dulu mengenai cinta pertama? dan apakah kenangan itu masih berkesan atau biasa saja? bagaimana dengan sosok idaman yang menjadi cinta pertama kalian, masih diingatkah? Pernah tidak stalking dia di sosial media?

Di tulisan ini saya ingin mambagikan mengenai cinta pertamaku. Masih ingat betul bahwa saya sudah merasakan ketertarikan dengan lawan jenis pada saat berumur 6 tahun, entah bagaimana bisa diumur yang sangat belia saya sudah memiliki rasa ketertarikan dengan lawan jenis, tapi yang jelas diumur yang sangat begitu mentah itu saya bisa merasakan jantung yang berdegup kencang jika mata ini menangkap sosok nan menawan itu, dan berlanjut dengan napas yang tertahan jika kami bertatapan mata, apa lagi jika dia menyapa. Lelaki cilik itu adalah teman masa kecil, kami tidak akrab, kami juga tidak sering bersapa karena memang intensitas pertemuan kita hanya satu minggu sekali di hari minggu saat sekolah minggu dulu.
Jadi jika ingin bertemu dengannya dihari biasa, saya selalu pergi ke toko yang melewati rumahnya walau hanya untuk membeli permen seharga Rp. 25. Padahal jarak antara rumah kami tidaklah dekat, tapi tidak juga jauh, kira-kira 500 meter. Padahal banyak toko-toko berederet di sekitar rumah, tapi demi dapat melihat sosok idaman, saya mau menempuh perjalanan 1 km, so silly ya…

Hal itu berlangsung sampai 1 tahun kemudian, dan saat saya berumur 7 tahun saya harus pindah ke Kota Malang, selama di Malang saya yang dulu masih kecil ternyata mudah lupa akan sosok itu, seketika nyaman dengan tempat baru dan teman-teman baru. Tapi jika saya kembali berkunjung ke tempat tinggal saya yang dulu saat di Surabaya, saya akan kembali melakukan hal yang sama, pulang pergi 1 km untuk beli permen Rp. 25 hanya untuk melihat dia.

Singkat cerita, saya harus kembali ke Surabaya selepas lulus SD untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Karena saya murid pindahan dari luar kota saya tidak bisa masuk sekolah negeri, jadi orang tua sayapun mendaftarkan saya di sekolah swasta katolik. Kelas satu dilalui begitu saja, sampai tiba saatnya naik ke tingkatan baru, kelas 2 disitulah mulainya cinta monyet ala remaja yang tak berujung… alay. Saat turun dari angkutan umum, dan hendak menyeberang ada wajah yang tak asing buat saya, saya melihat wajah lelaki cilik idaman hati yang masuk ke sekolah saya dengan dibonceng sepeda motor oleh lelaki dewasa yang saya yakin itu adalah kakaknya karena wajah itupun tidak asing. Mereka berboncengan 3 orang kala itu, kalau dilihat dari bet yang mereka kenakan di seragam, sosok itu kelas 3, dan yang satu lagi yang saya yakini adiknya masih kelas 1. Dengan tergesa-gesa saya memasuki gerbang sekolah, tak sabar tuk mencari tau apakah benar wajah yang aku kenal adalah dia yang dulu selalu membuat saya dag dig dug.

Strategi pertama yang saya lakukan adalah menghampiri adiknya yang duduk dikelas satu, karena merasa kakak kelas jadi berani-berani saja, maklum saat itu senioritas masih berasa. Dan ternyata benar dia adalah sosok itu, jadi selama ini dia satu sekolah denganku. Berawal dari itu saya mulai ber-hunting informasi, dan saat itu juga saya memutuskan tuk bergereja yang sama dengan gereja yang dulu kami sekolah minggu bersama, padahal jaraknya sudah tak dekat lagi karena saya sudah pindah dari tempat semula.

Singkat cerita banyak cara sudah dilakukan tapi dia tetap tak tertarik, melirikpun tidak, kasihan. Padahal saya sudah tau banyak tentang dia, seluruh keluarganya, minta bantuan temen buat jadi makcomblang pun sudah, tapi tetap saja nihil. Sampai akhirnya saya memutuskan tuk melupakan yaitu saat SMA kelas 2. Entah berapa tahun sudah saya mencoba.

Anyway, akhirnya saat memasuki kuliah, dia sama sekali hilang, tapi ada kalanya masih teringat, karena buat saya dia itulah cinta pertama, hanya sekedar itu, tapi tak ada lagi rasa. Apalagi saya sudah menemukan pria idaman hati yang sudah menjadi suami saya. Tapi lagi saya masih penasaran, dan tiba suatu saat saya mencoba mencari profilenya melalui sosial media, gagal ditemukan, tapi malahan kakaknya yang dulu membonceng dirinya ke sekolah yang menemukan saya di facebook. Tapi saya tetap belum berani untuk menanyakan adik lelakinya itu. Sampai suatu ketika, setelah berbulan-bulan tak ada niatan tuk mencari, saya kembali mencari namanya di kotak pencarian di facebook, and taddaaa, i found him, setelah bertahun-tahun tak mendapatkan titik terang. Saya pun beranikan diri untuk berteman, keesokan harinya dia menerima permintaan pertemanan saya. Saat itu juga saya memulai perbincangan dengan dia ” hey, gimana kabar? masih ingat aku?, setengah jam kemudian saat saya mengakses kembali facebook, saya mendapati pesan dan itu dari dia. Dan pesan itupun berbunyi “ini siapa ya? maaf aku g ingat”. Dan sayapun tertawa geli sendiri, oalah mbak yu mbak yu wez tah ga usah dieleng eleng maneh. Hahaha.

Image is copied from http://www.kompasiana.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s