Antara Pecandu, Polisi dan Bubuk Misterius

Posted on Updated on

Setibanya di Australia pada tanggal 2 November lalu, saya dan suami mendapati pintu garasi yang terbuka secara paksa. Kami pun bergegas turun dari mobil untuk mengecek kondisi garasi yang sebelumnya kami sangat yakin bahwa kami telah menutup dan mengunci semua pintu sebelum kami bertolak ke Indonesia. 

Kondisi di depan garasi juga tidak lagi rapi, bata beton berserakan, patahan kayu serta sampah plastik dan kaleng minuman disana sini. Kami memang meninggalkan rumah dalam keadaan kosong selama kurang lebih satu bulan, tapi kami tidak menyangka hal ini akan terjadi, toh ini bukan kali pertama kami meninggalkan rumah dalam kondisi kosong. Setelah melihat ke dalam, ternyata benarlah perkiraan kami bahwa orang yang tak dikenal telah mengunjungi rumah kami tanpa permisi. Beberapa barang di garasi hilang, koleksi kesayangan suamipun raib. Dengan penuh penasaran kami memindahkan perhatian di dalam rumah, penasaran dengan kondisi di dalam kami segera membuka pintu. Dan taadaaa… barang-barang berserakan dimana-mana. Piring-piring kotor dan perkakas dapur lainnya berserakan di meja hingga menimbulkan bau tidak sedap, mie instans yang tadinya masih tersisa setengah di dalam kotak kardus hanya tinggal 1 bungkus, botol minuman kosong dimana-mana, nampak jelas bahwa si pencuri sempat menginap di rumah kami,  kaca jendela pecah, laptop lenyap, dan barang-barang tercecer dilantai, kami hanya bisa menatap dengan miris, terlebih karena kondisi tubuh yang masih capek setelah 8 jam perjalanan dari Bali menuju rumah, padahal disaat itu saya sudah membayangkan untuk segera menyegarkan badan dan merelaxkan diri setelah perjalanan jauh tapi kenyataan berkata lain.

Tanpa tunggu berlama-sama suamiku pun menelepon polisi, hemm…  pengalaman baru pikirku, karena ini adalah pengalaman pertama, kejadian kriminalitas yang melibatkan polisi. Satu jam setelah melapor polisi tak kunjung datang, saya sudah gerah menunggu, sudah tak sabar membereskan rumah kemudian istirahat, karena sebelum polisi datang dan melakukan investigasi, saya dan suami belum boleh menyentuh apapun, satu jam kemudianpun berlalu, saya sudah mulai bosan menunggu, padahal kalau di film-film barat aksyen kecepatan antara polisi hanya berbanding 11:12 dengan kecepatan cahaya. Dan akhirnya setelah 2 jam total menunggu sang polisi pun datang, tanpa panjang lebar merekapun melakukan investigasi, mulai dari pengambilan foto, sidik jari dan lain sebagainya. Sekitar satu jam mereka menyelesaikan tugas tersebut, dugaan sementara pelaku adalah pecandu sabu. Akhirnya polisi yang berjumlah 2 orang itu pergi, setelah meninggalkan kartu nama dan pesan kepada kami agar selalu melaporkan jika kami menemukan barang bukti temuan baru.

Esok paginya, saat saya membersihkan kamar tamu, saya menemukan pipa penghisap sabu, dengan hati-hati saya mengambil plastik untuk mengangkat alat penghisap tersebut, saya tidak mau sidik jari saya merusak barang bukti. Beberapa menit kemudian suamiku menemukan kantong plastik berisi bubuk putih di sela-sela wine rack, dan diapun meletakkan alat penghisap dan serbuk pada satu tempat di meja depan.

Tapi suamiku sedikit curiga, bagaimana mungkin pelaku meninggalkan sabu dalam ukuran yang lumayan untuk berpesta, tanpa penasaran dengan apa yang ditemukan suami, saya hanya bisa mendengarkan, karena saya terlalu capek dari kemarin berberes dan berbenah rumah, walau sebenernya penasaran tapi nyamannya sofa masih lebih menggoda. Saat melewati meja depan tempat barang bukti, rasa penasaran saya pun timbul. Saya amati bubuk tersebut dengan pertanyaan yang timbul apa seperti ini warna sabu, tapi kok warnanya putih tulang, bukan warna putih mengkristal seperti saya ketahui sebelumnya. Semakin saya amati kok saya semakin kenal bubuk ini. Sayapun menyampaikan ke suami bahwa ini bukan bubuk sabu, tapi suami tetap akan menyerahkan barang-barang itu ke polisi, tapi sayapun tidak tau pasti bubuk apa yang ada di kantong plastik tersebut, hanya saja nampak tidak asing. Keesokan hari saat saya telah ingat bubuk apa sebenarnya yang ditemukan suami, saya dengan segera menanyakan dimana bubuk tersebut, dan ternyata dia telah menyerahkannya kepada polisi. Dengan rasa ingin tau diapun menanyakan, “Memangnya itu bubuk apa? “. Dengan lirih saya menjawab, itu bubuk masker mukaku yang aku bawa dari Indonesia 6 bulan lalu. “Oh ya, yah sudah di kantor polisi”, Timpalnya.

Ya sudahlah.

2 thoughts on “Antara Pecandu, Polisi dan Bubuk Misterius

    Wahyu Alam said:
    6 January 2016 at 6:09 pm

    Anjir, tulisan yg bikin penasaran.
    Sudah baca sampai super penasaran, ternyata jawabannya ini: “Dengan lirih saya menjawab, itu bubuk masker mukaku yang aku bawa dari Indonesia 6 bulan lalu.”

    *serasa ditabok serbuk masker ke mukaku*

    Like

      putrikapitan responded:
      6 January 2016 at 6:19 pm

      hahaha, aku juga yu, berasa malu malah ma polisi sana. *aduuhhh*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s